Senin, 19 November 2012

Pengalaman Cum Denial

Dalam hatiku aku selalu menyanggah bahwa aku jual diri atau melacur, walaupun pada kenyataannya aku sudah seperti Gigolo,atau tepatnya Kucing (lelaki yang memberikan servis sex kepada sesama jenis).
Betapa tidak, sekarang aku sering mempersiapkan diri agar pasangan homosexualku merasa puas. Aku sendiri tidak tahu apakah aku mengharapkan uang ataukah aku ingin membahagiakan laki-laki yang menjadi pasanganku. Ataukah mungkin aku berharap agar cowok-cowok yang ganteng(terutama aktor laga)mau sering-sering berhubungan sex dengan aku.
Sebagai contoh, sekarang aku makin rajin menjaga penampilanku, baik wajah maupun tubuh. Untunglah aku tidak punya masalah dengan kulit mukaku atau jerawat. Sedangkan untuk body, sejak umur 16 tahun aku sudah rajin latihan beban dan jogging.Sekarang aku sudah jadi anggota fitness center. Sehingga pertumbuhan ototku makin serasi.Kebetulan pelatih fitnessku seorang pelatih profesional.
Karena tubuhku ramping,maka keindahan ototku baru bisa dinikmati jika aku memakai kaos ketat atau buka baju. Tidak heran, jika banyak cowok yang main sex denganku berdecak kagum dan memuji otot-ototku di tempat tidur pada saat kami mulai buka-bukaan baju. Karena mereka tidak menyangka bahwa bagian badanku yang tertutup pakaian begitu ketat dan nikmatt untuk dipandang dan "dipakai".
Dalam hatiku juga muncul pertanyaan apakah aku berlatih keras dan teratur demi kesehatanku atau demi kepuasan sexual. Umumnya laki-laki homosex membentuk ototnya seindah dan seketat mungkin untuk dinikmati sendiri waktu onani atau untuk memikat sesama jenis. Padahal, bagiku, latihan angkat beban bagaikan sesuatu yang wajib seperti halnya kewajiban minum air 12 gelas sehari demi kesehatan. Begitu juga jogging, sit up, push up, pull up dan latihan tinju dengan sand-sack.
Bahkan, jika di masa yang lalu, di dalam tas yang kubawa ke kantor hanya diisi baju ganti dan alat mandi. Sekarang sudah aku lengkapi dengan kondom, vaselin (sebagai lubricant atau pelumas untuk melicinkan kulit kontol sebelum dihajarkan ke lobang pantat), enema (obat untuk mengosongkan kantong pelepasan atau rectum dari kotoran agar jika lobang pantat disodomi, usus sudah bersih dari kotoran),bedak badan(medicated body powder), deodoran untuk ketiak partner sex-ku, pinset dan gunting kecil untuk mencabuti rambut ketiak dan merapikan jembut cowok partnerku, serta parfum.
Baju ganti yang kubawa juga kupilih sedemikian rupa sehingga masih pantas aku pakai jika aku dibawa cowok ke hotel berbintang untuk dipakai sebagai pelampiasan nafsu homosexnya.
Enema aku pakai kalau aku sempat di-book beberapa jam sebelum main. Sedangkan kondom untuk jaga-jaga seandainya pasangan sexku bersedia memakai kondom. Aku sendiri sebetulnya tidak suka disodomi atau menyodomi tapi kalau partner meminta, apa lagi memaksa, apa daya....?
Sejauh ini,hanya seorang aktor yang kusebut saja Si Rupawan, yang mau pakai kondom. Itu pun waktu dia akan ngembat lobang pantatku. Sedangkan waktu kontolnya minta disedot dengan mulutku, kontolnya yang sebesar kontol kuda Australia (dan belum lama ini disunat) loss saja masuk rongga mulutku(dan terasa nikmatt)
Karena aku seorang Satpam, tentu saja jenis tas-ku bukan Samsonite atau sebangsanya,tapi tas yang sederhana berwarna hitam atau biru tua agar tetap serasi dengan baju seragam Satpamku yang berwarna putih biru itu. Sebagian Satpam temanku membawa ransel, tapi aku tidak suka ransel.
Aku juga tak bisa menduga apa yang dirasakan oleh Pembaca yang budiman, saat membaca kisah cabulku ini. Apakah benci, sebel, sayang, iba, kasihan, tak perduli, kepada seorang Satpam homosex macam aku ini. Ataukah malahan ingin mencicipi tubuhku yang ketat dan nikmatt?
Penggunaan enema aku pelajari dari Irvan (seorang kontributor MOTN yang memakai nama "ITB Guy" dengan alamat e-mail girvan@eudoramail.com). Aku kenal Irvan melalui MOTN. Kami kontak lewat e-mail dan konfirmasi tentang jatidiri kami demi keamanan lalu saling kirim pic (foto) lewat e-mail. Terus kami kontak per telepon. Akhirnya kami kencan di Hotel Cedi, Bandung. Sebelum kencan, Irvan dan aku menyepakati dulu apa "do's and don'ts" kami.
Irvan minta agar lobang pantatku dibersihkan dulu dari kotoran dengan enema. Dia akan melakukan sodomi dan kalau aku tidak mau, dia akan memaksa aku dengan kekerasan [Nikmat, bukan?]. Aku minta agar dia mencabuti rambut ketiak memakai parfum Hugo Boss dan deodoran Etienne Aigner. Aku juga menuntut agar jika dia tidak sunat maka kulupnya harus ditarik arah ke belakang kontolnya lalu di fixasi dengan plester. Sehingga bentuknya persis kontol yang sudah sunat. Untunglah Irvan-ku yang ternyata ganteng dan amat macho itu sudah sunat!
Irvanlah yang mengajari aku melalui telepon bagaimana memilih dan menggunakan enema. Aku suka sekali dengan Irvan. Karena kalau hubungan sex dia bisa amat sadis dan sangat kejam.Dia main borgol, main rantai, main hajar dengan cemeti dan main paksa dengan kekerasan.Aku puass sekali. Sayangnya seperti semua laki-laki homosex, Irvan hanya mau kontak fisik dan main sex sekali saja dengan setiap cowok ["untuk pertama dan terakhir kali"].
Padahal kalau aku teringat hubungan sexku dengan Irvan di Hotel Cedi, aku langsung jadi ngaceng berat sampai keluar cairan mazi (pre-cum), saking nikmatnya! Di Hotel Cedi kami menginap dua hari dua malam. Pada saat hubungan sex terakhir, dia merangsangku habis-habisan dan ketika aku akan hampir orgasme, tiba-tiba dia pamit sebentar dan lenyap entah kemana. Karena dia hilang tak tentu rimbanya maka aku terpaksa menyelesaikan puncak syahwatku dengan ngeloco sepuas-sepuasku sampai keluar pejuh :..CRROTT ..CRROTT..CRROTT!. Aku mencoba menelepon melalui HP-nya, tapi sampai kapan pun tidak pernah bisa dikontak.
Belakangan aku tahu melalui surat dari Irvan (tanpa alamat yang jelas), bahwa dia sengaja memberi kenangan manis padaku dengan melakukan siksaan sexual kejam. Merangsang partner sexual dengan kenikmatan luar biasa, tapi tanpa diberi kesempatan orgasme (cum denial).
Siksaan ini biasa dilakukan dalam hubungan s/M. Dimana Master sengaja menyiksa slavenya dengan merangsangnya sampai hampir orgasme, tapi selalu dicegah untuk orgasme.Akibatnya, pikiran si slave terpaku kepada sex saja karena terus-menerus berpikir bagaimana bisa mendapatkan orgasme dan bagaimana bisa mengeluarkan pejuhnya.
Biasanya tangan slave diborgol dengan handcuff (borgol tangan) dan kontolnya diborgol dengan cockcuff (borgol kontol). Jadi si slave betul-betul harus mendapatkan belas kasihan dari Master kalau mau memancarkan pejuhnya. Kecuali melalui mimpi basah. Sadiss dan nikmatt mendengarnya!!
Menurut Lino (Marcellino Thomas Dj),"cum denial" sering dilakukan oleh pacarnya Jo (Jonathan) yang kebetulan seorang Black American (dahulu: Negro) terhadap Lino. Kebetulan pola hubungan mereka s/M. Dimana Lino jadi slave dan Jo jadi Master.
Bahkan Jo lebih kurang ajar lagi dengan memaksa Lino harus menenggak Viagra, lalu merangsangnya habis-habisan. Kemudian memborgol tangan dan kontol Lino. Tentu saja Lino blingsatan seperti kuda jantan kasmaran pada kuda betina. Pada hari kedua, setelah Lino memohon-mohon seperti anjing, barulah Jo mau melepas borgol-tangan dan borgol- kontol Lino. Sehingga Lino bisa bebas mengocok kontolnya dengan tangannya sendiri, sampai pejuh Lino muncrat berceceran, lemesss tapi merasa lega (relieve) dari beban dorongan sexual yang membara selama dua hari dua malam. Gila! Tapi asyik bukan?
Sekarang di San Francisco, Lino juga sedang blingsatan. Bukan karena cum denial, tapi karena semua Warga Negara Indonesia yang ada di Amerika Serikat harus melapor ke Kantor Imigrasi Amerika (National Immigration Services - NIS). Kalau tidak,akan dituduh sebagai teroris.Dasar USA babi!
Pembaca MOTN yang budiman, selama beberapa tahun aku bekerja di kantor production house, aku bisa melihat pasang-surutnya karir dari para selebritis Akhirnya, aku berkesimpulan bahwa Sang Pencipta telah membagikan karunia-Nya secara adil. Yang penting kita bisa mensyukurinya. Sekarang aku hanya jadi Satpam dengan penghasilan tambahan menjadi pelacur lelaki alias Kucing. Mungkin esok nasibku lebih baik.Pembaca MOTN Tersayang, tolong doakan aku ya!. Sebagai penutup, aku buat sebuah puisi pujaan buat cowokku tercinta - Irgi Achmad Fahrezi :
The Unachieved Hope or "Harapan Sia-Sia"
Irgi Achmad Fahrezi, aku seorang Satpam, pemujamu. Aku lelaki, homosex dan pelacur. Saat krisis ini, semua begitu buruk, seperti tak ada pilihan bagiku, kecuali mencari tambahan uang, dengan melacur. Langgananku adalah rekanmu, sejawatmu, mungkin sahabatmu. Aku ingin lepas dari kecabulan ini, tapi tak pernah lepas, bagai krisis di negara kita. Masih adakah harapan? Kukira ada, meskipun hanya harapan sis-sia! Engkau diciptakan begitu indah, rupawan, menawan, dan bukan, penikmat sesama jenis. Aku kagum, bangga dan cinta padamu, Irgi Achmad Fahrezi. Engkaulah pemberi semangat hidupku!
Salam manis untuk segenap Pembaca dan Pecinta MOTN Erotic Stories, situs tercabul di dunia!. Salam sayang buat Irgi Achmad Fahrezi pujaanku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar