Kamis, 11 Oktober 2012

Supir Kurang Ajar

[d14.jpg]
Hari itu saya diterima sebagai supir pribadi di daerah intercon setelah pencarian sekian lama. Tak mengapa jadi seorang supir pribadi ini, yang penting kerjaan halal. Toh saya hanya lulusan smu sederajat yang tidak sebanding dengan mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di Universitas. Saya harus mensyukuri bahwa saya akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan ini, dibandingkan dengan teman sepermainan lulusan Universitas yang tidak memiliki pekerjaan. Walau jauh dari kampung, saya diberikan fasilitas untuk tinggal di dalam serta makan. Kenapa tidak? Batin saya dalam hati. Toh jauh lebih baik daripada di kampung hanya bercocok tanam saja. Bercocok tanam tanpa hasil apa-apa diumur 27 ini apalah yang bisa saya banggakan? Hasil menanam sungguh tidak sepadan dengan pengeluaran kami, terlebih jika melihat hasil tanam kami dihargai sangat mahal saat dijual di hypermarket dan mall-mall dibanding saat diambil oleh pengepul.

Saat interview kerja, saya belum tahu siapa atasan yang akan saya layani. Saat itu Ibu Leila hanya mengatakan saya bertugas untuk mengantarkan atasannya dan umumnya pekerjaan supir lainnya. Hari pertama saya ditempatkan di mess karyawan bercampur dengan karyawan-karyawan lainnya. Hari keempat saya diminta untuk memindahkan semua barang saya menuju rumah atasan saya, karena atasan saya itu ternyata baru balik dari Australia 2 hari lagi.

Wow, takjub saya melihat rumahnya. Besar tapi sederhana, tidak seperti orang kaya umumnya. Disana semua tertata rapi dan berbentuk rumah kebun, sungguh sangat asri. Sehingga kondisi rumah tidak panas dan sumpek. Disana saya berkenalan dengan mbok Rini, beliau sudah bekerja pada majikan saya ini sekitar 10 tahun. Mbok Rini tidak tinggal di dalam, karena mbok rini tinggal dengan anak perempuannya di dekat rumah majikan saya ini. Jadi saya selain bekerja jadi supir – tukang jaga rumah – tukang kebun. Hahaha, tidak buruk lah.

Hari pertama, mbok Rini menjelaskan semua pekerjaan saya dan menceritakan sedikit tentang majikan saya ini. Mbok sangat menyayangi majikan saya ini, karena beliau sangat baik kepadanya. Mbok menasehati saya untuk kerja dengan baik dan tidak panjang tangan – salah satu kekurangan para pekerja di rumah orang kaya. Tapi apalah yang mau diambil dari rumah asri ini? Tidak ada. Hehehe. “Ini orangnya, den Hermawan, kamu panggilnya Pak Hermawan saja dahulu, umurnya kira-kira 32 tahun” kata mbok Rini. Terdiam saya melihat Pak Hermawan, tampan! Sungguh saya ingin segera melihat beliau. “Besok den awan akan balik, jadi kamu siap-siap yah” lanjut mbok Rini. Saya masih terpana melihat foto yang ditunjukkan oleh mbok Rini, beruntung sekali saya dapat majikan ini.

Setelah menunggu sekian lama menunggu dengan penasaran, akhirnya saya bisa bertemu beliau. “Hi, Yanto? Semoga betah yah disini” salam pak Awan kepada saya. Tampan, tegap, baik serta sopan walau saya hanya seorang supir saja. Saya sangat senang bisa bekerja untuknya. Bayangkan, tas kerja, laptop maupun buku map kantor selalu dibawa sendiri, tidak pernah meminta saya membawakannya dengan alasan. Hari-hari saya lalui bersama pak Awan, tiada yang aneh dengan beliau, setiap hari hanya rutinitas saja, selalu kerja – kerja – kerja dan kerja. Beliau jarang pergi bersama teman-temannya, setiap minggu selalu di rumah membaca buku dan Koran, bahkan sesekali menanam atau menyiangi tanaman. Beliau juga tidak bermasalah jika saya tidak memakai baju atau hanya bertelanjang dada saja, maklum kebiasaan di kampung. Tapi tanggapan pak Awan sangatlah biasa saja, dia tidak terlihat bernafsu dengan badan saya. Toh dengan fisik wajah yang laki dan bentuk badan hasil kerja keras di ladang, saya masih bangga kok, kekurangan saya hanya hitam saja hahaha. Buktinya tante Sonia tetangga pak Awan dan pembantunya suka sekali menggoda dan meminta tolong saya serta sesekali mereka memegang saya. Saya tidak melihat pak Awan memiliki hasrat seperti tante Sonia dan minah kepada saya, sungguh membuat saya penasaran. Karena pak Awan sendiri tidak merespon tingkah laku binal tante Sonia kepadanya, jadi saya tidak tahu sebenarnya pak Awan ini gay atau bukan.

Sungguh membuat saya tersiksa berada di dekat pak Awan, sesekali saya sampai mengintipnya mandi! Wow, badannya atletis bukan build seperti orang yang fitness sampai besar seperti Ade Rai. Kontolnya panjang dengan ukuran 18 cm dengan diameter 4 cm, kebetulan waktu mengintipnya dia sedang mengocok. Jantung saya serasa mau lepas saat melihat seluruh badannya, pantatnya yang semok dengan kontol yang besar… ohhh… ingin segera saya seruduk dan memperkosanya! Sangat ingin sekali. Akhirnya, saya semakin rajin mengintip pak Awan serta tidak menggunakan baju, kolor dan memakai celana pendek saat mbok Rini tidak ada, sengaja saya membuat lubang-lubang tertentu di celana saya, sehingga kadang kala kontol saya keliatan dari sela-sela lubang. Upaya saya cukup membuat beliau salah tingkah, karena tanpa sepengetahuan beliau, saya menangkap bahwa dia melirik kearah kontol saya. Kadang kala saya tidur telanjang bulat dengan kontol ngaceng berharap pak Awan datang dan memanggil saya, berhasil? Tentu saja beberapa kali dia melihat, mengamati saya yang sedang tidur telanjang dengan kontol ngaceng.

Hingga suatu saat hehehe… Saat itu sedang pemadaman bergilir, YES!

Saat itu saya sebenarnya belum tidur dan saya mendengar beliau memanggil saya. “Yanto, kamu di dalam?” panggil pak Awan sambil membuka pintu kamar saya, saya pura-pura tidur telanjang bulat. Karena kondisi rumah yang gelap, terpaksa pak Awan meraba-raba sekeliling dengan bantuan sinar temaram dari hpnya. Ternyata pak Awan sedang mandi saat mati lampu, karena pak Awan hanya memakai handuk dan kelihatan basah sekujur tubuhnya. Setelah melihat saya yang telanjang dengan kontol ngaceng, beliau menepuk-nepuk saya agar saya bangun,

“to, bangun… to” pak Awan

“kenapa pak… mmm” Yanto

“tolong buka kran manual dari toran atas, saya belum selesai mandinya” pak Awan

Saat itu nafsu saya sudah mencapai puncaknya, karena melihat siluet badan dan kontolnya yang setengah bangun itu. Dibutakan oleh nafsu, saya pun menariknya dan memeluk pak Awan serta menciuminya. Pak Awan sangat kaget dan berusaha melawan saya, tapi saya tetap memaksa menahan pak Awan dan berhasil membuka kakinya sehingga kontol saya dan kontolnya saling menggesek. Sembari menciumi pak Awan saya juga mengesek-gesekkan kontol saya ke kontolnya, sesekali kontol saya selip dan mengenai lubangnya… oh sungguh nikmat.

“To, jangan to! Apa-apaan kamu ini!”

“Udah diam aja pak, nanti juga enak”

“Jangan to… Kau jangan kurang ajar!”

Saya takut juga, tapi tetap saya paksa menciumi pak Awan hingga gelagapan menerima ciuman serta sedotan saya, sambil menggesekkan dan menyodokkan kontol saya terus hingga tak terasa mani saya mengenai dan melumasi lubangnya. Tak terasa 5 menit kemudian, nafas pak Awan mulai memberat dan perlawanannya tidak begitu besar lagi dan selalu saya tekan kedua tangannya hingga saya leluasa menciumi serta menyodok-nyodokkan atau menggesekkan kontol saya.

“To, hentikan to! …. Mmm… glek … o …”

“Tenang aja pak… enakkan pak mmm …” Yanto, sambil menggulum bibir dan menyedot lidah pak Awan

“To, tolong to… Hentikan orghhh … mmm …”

Sambil meracau penolakannya, pak Awan mulai membuka dan melingkarkan kakinya di pinggang saya, sehingga saya lebih leluasa untuk menggesekkan kontol saya serta menyodokkan ke lubangnya, walau belum masuk tetapi perlahan pasti lubangnya mulai membuka sedikit karena mani saya melumasi lubangnya itu. Ooohhh sungguh nikmatnya, tak lupa segera saya mengambil sarung dan mengikatkan kedua tangan pak Awan sambil menciumi beliau, ketika sudah terikat, saya tetap menempelkan kepala kontol saya di lubang pak Awan dan sedikit memaksakan untuk masuk serta memberikan ciuman disekitar leher hingga telinganya dan membisiki “Tenang aja pak, saya tahu bapak butuh dan pengenkan? Pasti enak kok pak, biar bapak coba dulu kontol saya mmm…. Tuh lobang bapak dan minta dientot ma saya pak… arghhh… slurrppp”

“Jangan to … ohh … argh …”

“Slurrpphh … pok … cup … nih saya tandai pentilmu pak … punya saya mmm … enak benar … dada bapak padat sekali minta dicupang terus mm … cup … “

Saya beri cupang sampai merah semua dada pak Awan hingga six pack nya serta kontolnya. Wow, kontol 18 cm dengan diameter 4 cm berurat penuh diseluruh batangnya. Jembut yang rapi dan wangi! Segera saya sedot dan saya berikan kuluman terbaik dari saya hingga pak Awan melenguh keenakan serta mendesis tak tertahankan. Saya sedot sampai dari pangkal sampai ujung kontolnya bersih saya jilati… Kontol yang nikmat! Hingga badannya mengelepar ke kiri dan kanan dengan nafas yang berat dan sesekali menjepit kepala saya dengan pahanya. Dibarengi desis dan lenguh nikmat pak Awan, saya arahkan lidah saya menuju lubangnya yang sudah penuh basah dengan mani saya. Saya jilati dan mainkan dengan lidah serta jari saya, seketika pak Awan terkejut nikmat dan melenguh keenakan dengan nafas yang tertahan lepas.

“Ough To … ngapain kamu! Oh! Hosh … Ahh …”

“Mmmm … enakkan pak? Mmm?”

“…. Oohh … akh”

“Slruuppp … enak ga pak … ? mmm”

“Enak To … enak banget …”

“Lagi pak … ? hmm? …”

Tak lupa saya selipkan pelicin durex ke lubang pak Awan sambil mengocok- ngocok lubang saya dengan pelicin itu juga, karena saya khawatir pak Awan belum pernah dientot dan menyebabkan dia kesakitan. Bisa-bisa saya nga punya lubang buat dientot lagi nih.

“Lagi To … terusssss … arrghhhh”

“hmmm … nih saya kasih yang lebih enak pak … kontol saya pak … makan nih kontol … orghhh”

Sambil beringsut naik, saya menciumi dan memainkan pentil pak Awan, saya arahkan kontol saya yang berukuran 15.5 cm dengan diameter 3.5 cm ke lubang pak Awan yang sudah basah dengan mani, ludah serta pelicin durex itu.

“Jangan yang itu To … jangan entoti saya to … saya nga bisa to, tolong arghhh hosh … akh”

“Justru ini yang enak pak … coba dulu … orghh hah …”

Sambil tetap menyodok-nyodokkan pelan kontol saya ke lobang pak Awan, saya dan pak Awan meracau keenakan ketika kepala kontol saya dan lobangnya bersentuhan. Saya tahu dia sebenarnya penasaran pengen dientot, hanya saja pura-pura tidak mau hehehe kelihatan dari nafas dan tetap ngangkangnya serta kakinya masih menjepit erat pinggang saya sehingga kontol saya masih nempel di lobangnya… enakkan? hehehe

“Urghhh … Jangan to …”

“… Mmmm … da ga tahan nih pak … pengen ngentot … kepalanya aja deh pak yah … ohh”

Sedikit menekan saya masukan kepala kontol saya ke lobang perawannya pak Awan serta menciumi dan melumat bibir serta lidahnya mmmm …

“Orghhh … jangan to … agh haa …”

“Hahhh … dikit aja pak … ohh sempit banget …”

“Akhh … kepalanya aja to … jangan dalam-dalam”

“Iya pak … kepala kontolnya aja orghhh … enak pak … mmm”

Perlahan tapi pasti, kepala kontol saya da masuk ke lobang pak Awan, gilak! Sempit dan menjepit banget! Saya diamkan sebentar dan menciumi pak Awan, ketika sudah regang otot pantatnya, segera saya keluarkan dan hujankan lagi perlahan-lahan ke lobangnya. Wow, sensasinya nikmat banget! Perlahan pula lubang pak Awan mulai membuka dan membuat kontol saya makin dalam lagi hujamannya. Awalnya hanya kepala kontol saya, tanpa terasa pak Awan makin mengangkang dan menjepit pinggang saya sehingga saya makin menusuk kontol saya. Dari kepala kontol, masuk cm demi cm hingga leher dan habis kontol saya dalam lobang perawannya, lobangnya seakan-akan menyedot masuk kontol saya! Oh nikmat sekali jepitannya!

“Ohh … enak pak … masuk semua kontol saya pak … argh sempit”

"Masuuukkkk pak semua ... enak pak ... arghhh ..."

“Akhhh … To …”

“Enakkan pak dientot Yanto? … hosh … akh”

“hahh…”

“Enak ga pak …? Mmm…”

“Ii i iya ... enak To …”

“Lagi pak? Mau yang enak lagi?? Arghhh…”

“Ya aaa ... To … mau … mmm …”

Saya tarik kontol saya hingga menyisakan kepala kontol saya perlahan-lahan, kemudian saya masukkan lagi perlahan, mmmm nikmatnya. Hingga lobang pak Yanto sudah menyesuaikan dengan ukuran kontol saya, baru saya mulai mengenjotnya perlahan-lahan hingga ritme yang cepat. Gesekan kontol ku dengan dinding lobangnya membuat ku makin nikmat keenakan. Begitupun dengan pak Yanto yang terus melenguh keenakan. Badan kami berdua telah basah oleh keringat kami yang membanjir, mempermudah saya menghujamkan kontolku …

“Hosh … hosh … lagi pak??”

“I… ii.. ya too …. Oohhh”

“Apanya lagiiiii pakkk?? Hosh… hoshh…”

“…. Ituuu arghhh ….”

“Ituuu apa pakkk … hmmm? Akh sempit banget!”

“Itu u uuu namanya dientoti Yanto pak … enakkan pak? Dientoti Yanto ?? mmm? ?”

“I i… yaaa…. Enak banget toooo … terus …”

“Teruusssss apanyyyaaa paaakkkk hah hah haaah”

“Teruussss entotiii bapak too … ogh hosh hosh”

“Iyaaa … bakal Yanto entoti terus pak … sampai bapak puas hah hah … terus yah … hmmm?”

“Yaangg dalammm toooo entotinya ogh …. Ogh enak bange t too o …”

“Hosh hosh yang dalammm pak?? Enak aayyaaa …? Dientot pakaii apa pak… hosh hah …??”

“Pakaii kontoollll … ogh … pakai kontol mu to … enak to …”

Kami makin menggila ditengah kegelapan ruang tidurku, sambil terus mengentoti pak Awan, saya juga menciumi dan merasakan kenikmatan yang tiada tara ketika mendengar pak Awan melenguh keenakan dientoti kontolku. Tak lupa saya juga mengocoki kontol pak Awan yang besar itu, maninya tak henti-hentinya keluar. Siapa mengira akhirnya saya bisa menaklukan majikan saya hingga di meracau keenakan dientoti saya. Hahaha… Nikmat juga jadi supir nih… Tak terasa sudah 18 menit saya mengentoti pak Awan dan saya merasa kontol saya sudah mau meledak pejuh ku. Begitupun pak Awan yang lobangnya makin menjepit kontolku seakan-akan ingin ikut juga meledak …

“Orghhh pakkkk … Yanto pengen muncrat pejuhnyaaaa … oohhh”

“Saya jugaaa too …”

“Hosh hosh … saya mauuu kellauuuarrr pakkkkk …!!!”

“Arghhh … hshhh aaaa …”

“OOOhhh … ngenntttootttttttt!!! Nikmat bangetttt!!!”

Sambil menciumi pak Awan dan melumat bibirnya, muncrat juga pejuhku dalam lobang pak Awan, nikmat banget! Bersamaan dengan pak Awan yang keluar bersama juga. Wow! Kontol saya merasakan denyutan dan jepitan yang nikmat ketika pak Awan memuncratkan pejuhnya hingga dadanya. Langsung saya jilat semua pejuhnya, terasa manis – asin – asem pejuhnya. Akhirnya saya jatuh di dada pak Awan dengan kontol yang masih dijepit oleh lubang pak Awan. Begitupun pak Awan akhirnya tumbang dengan nafas yang mengebu-ngebu… Disela-sela nafas berat dan mengebu kami, saya bisa menciumi wangi keringat dan pejuh pak Awan, nikmat sekali…

Saya tidak tahu apa hukuman saya ini karena saya sudah memperkosa pak Awan majikan saya.

Apakah saya akan dipecat? Ah sebodoh, yang penting nikmat!

Arghhh…

3 komentar: